Wednesday, March 21, 2012

Tugas Softskill Perekonomian Indonesia


TUGAS PEREKONOMIAN INDONESIA
Kelompok 12
Oleh :
1.    Aprinsa Leonita                   (21211030)
2.    Deby Debora Sianipar        (21211790)
3.    Merry Cristyn Rossarya     (24211439)
4.    Nindy Kusuma E                  (25211182)

Kelas : 1EB25
UNIVERSITAS GUNADARMA
2012


TUGAS PERTAMA

1.    Apakah yang dimaksud dengan kebijakan moneter?
Jawab :
kebijakan moneter adalah kebijakan yang mengarahkan perekonomian makro yang kondisinya lebih baik seperti yang diinginkan dalam mengatur jumlah uang.

2.    Apakah yang dimaksud dengan kebijakan fiskal?
Jawab :
kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang digunakan pemerintah untuk mengelola/mengarahkan perekonomian ke kondisi yang lebih baik atau diinginkan dengan cara mengubah-ubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah.

3.    Terangkan Apa maksud kebijakan Fiskal dengan kebijakan Moneter di Sektor Luar Negeri?
Jawab :
Dalam konteks perekonomian global, kajian peranan pemerintah dimanifestasikan dalam analisis kebijakan ekonomi internasional. Didalam analisa ini, tercakup juga kebijakan moneter dan fiskal dalam perekonomian yang terbuka, yaitu perekonomian yang melakukan transaksi ekonomi dengan perekonomian lain.






TUGAS KEDUA
1.    Jelaskan perkembangan perdagangan Luar Negeri 25 tahun terakhir dan buat dalam bentuk table!
Jawab :
perkembangan perdagangan Luar Negeri 25 tahun terakhir :


Terdapatnya perpindahan modal antar negara
Meningkatkan eksport komoditi di luar migas.
Aktifitas perdagangan internasional adalah eksport import yang menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan.
Meningkatkan kelancaran arus barang dan jasa di pelabuhan.
Di dalam perdagangan luar negeri mengatur pembebasan dan pengembalian bea masuk yang diberikan untuk barang dan bahan yang diimpor untuk keperluan produksi yang diekspor.
Dalam peningkatan pengeksporan dilaksankannya diversifikasi barang maupun pasar



Perekonomian Indonesia di era sebelum orde baru


PEREKONOMIAN INDONESIA SEBELUM ORDE BARU

Oleh :
1.    Aprinsa Leonita                   (21211030)
2.    Deby Debora Sianipar        (21211790)
3.    Merry Cristyn Rossarya     (24211439)
4.    Nindy Kusuma E                  (25211182)

Kelas : 1EB25

UNIVERSITAS GUNADARMA
2012

Kata Pengantar


Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa , yang telah mengkaruniakan segalanya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Perekonomian Indonesia ini dengan ruang lingkup pembahasan tentang “Perekonomian Indonesia di Era sebelum orde baru”. Adapun tujuan dibuatnya tugas makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui tentang sejarah perekonomian Indonesia di orde lama.
Banyak kesulitan dan hambatan yang penulis hadapi dalam membuat tugas makalah ini. Dengan adanya dorongan , bimbingan , dan bantuan dari semua pihak sehingga penulis mampu memyelesaikan tugas makalah ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini , semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materi-nya. Kritik dan Saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini selanjutnya.
                                                                                                          


                                                                                                                       Penulis


Daftar Isi

Kata Pengantar ............................................................................................... i
Daftar Isi .........................................................................................................ii
Bab I. Pendahuluan .......................................................................................
Bab II. Pembahasan (Isi) ................................................................................
Bab III. Penutup (Kesimpulan) ......................................................................

Daftar Pustaka ..............................................................................................












BAB I : PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
          Setelah akhirnya pemerintah Belanda mengakui secara resmi kemerdekaan Indonesia , selama dekade 1950-an hingga pertengahan tahun 1965 Indonesia dilanda gejolak politik di dalam negeri dan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah seperti di Sumatera dan Sulawesi. Akibatnya selama pemerintahan Orde Lama , keadaan perekonomian Indonesia sangat buruk.
            Selain laju pertumbuhan ekonomi yang menurun terus sejak tahun 1958 , dari tahun ke tahun defisit saldo neraca pembayaran (BoP) dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus membesar. Selain itu selama periode Orde Lama , kegiatan produksi di sekitar sektor pertanian dan sektor industri manufaktur berada pada tingkat yang sangat rendah karena keterbatasan kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung , baik fisik maupun non-fisik seperti pendanaan dari bank. Rendahnya volume produksi dari sisi suplai dan tingginya permintaan akibat terlalu banyaknya uang beredar di masyarakat.
            Dengan demikian dapat disimpulkan , bahwa buruknya perekonomian Indonesia selama pemerintahan Orde Lama (terutama) di sebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi fisik maupun non fisik selama penduduk Jepang , Perang Dunia II , dan perang revolusi , serta gejolak politik di dalam negeri (termasuk sejumlah pemberontakan di daerah) di tambah lagi dengan manajemen ekonomi makro yang sangat buruk selama rezim tersebut.
            Dilihat dari aspek politiknya selama periode Orde Lama Indonesia pernah mengalami sistem politik yang sangat demokrasi , yaitu : pada periode 1950-1959 , sebelum diganti dengan periode demokrasi terpimpin. Akan tetapi sejarah Indonesia menunjukkan bahwa system politik demokrasi tersebut ternyata menyebabkan kehancuran politik dan perekonomian nasional. Akibat terlalu banyaknya partai politik yang ada dan semuanya ingin berkuasa , sering terjadi konflik antar partai politik. Konflik politik tersebut berkepanjangan sehingga tidak member sedikitpun kesempatan untuk membentuk suatu kabinet pemerintah yang solid untuk dapat bertahan hingga pemilihan umum berikutnya.

B.   Rumusan masalah
1.    Bagaimana sejarah Perekonomian Indonesia di era sebelum orde baru?
2.   Apa isi Undang-Undang 1945 pasal 33?
3.    Bagaimana keadaan perekonomian pada saat itu?

C.   Tujuan
1.    Menjelaskan sejarah perekonomian Indonesia di era sebelum orde baru.
2.    Menjelaskan keadaan perekonomian pada saat pemerintahan bapak Soekarno.










BAB II : ISI
Sejarah Ekonomi Indonesia

A.    Pemerintahan Orde Lama

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Namun demikian , tidak berarti dalam praktiknya Indonesia sudah bebas dari Belanda dan bisa memberi perhatian sepenuhnya pada pembangunan ekonomi. Hingga menjelang akhir 1940-an , Indonesia masih menghadapi dua peperangan besar dengan Belanda , yaitu pada aksi Polisi I dan II. Setelah akhirnya pemerintah Belanda mengakui secara resmi kemerdekaan Indonesia , selama dekade 1950-an hingga pertengahan tahun 1965 Indonesia dilanda gejolak politik di dalam negeri dan beberapa pemberontakan di sejumlah daerah seperti di Sumatera dan Sulawesi. Akibatnya , selama pemerintahan Orde Lama , keadaan perekonomian Indonesia sangat buruk : walaupun sempat mengalami pertumbuhan dengan laju rata-rata per tahun 7% selama dekade 1950-an , dan setelah itu turun drastis menjadi rata-rata per tahun hanya 1,9% atau bahkan nyaris mengalami stagflasi selama tahun 1965-1966. Tahun 1965 dan 1966 laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) masing-masing hanya sekitar 0,5% dan 0,6%.
Selain laju pertumbuhan ekonomi yang menurun terus sejak tahun 1958 , dari tahun ke tahun defisit saldo neraca pembayaran (BoP) dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus membesar. Misalnya , APBN berdasarkan data yang dihimpun oleh Mas’oed (1989) , jumlah pendapatan pemerintah rata-rata per tahun selama periode 1955-1965 sekitar 151 juta rupiah (disebut rupiah “baru”) , sedangkan besarnya pengeluaran pemerintah rata-rata per tahun selama periode yang sama 359 juta rupiah , atau lebih dari 100 persen lebih besar dari rata-rata pendapatannya. Jika pada tahun 1955 defisitnya baru 2 juta rupiah , maka pada tahun 1965 sudah mencapai lebih dari 1 miliar rupiah. Berarti suatu kenaikan yang sangat signifikan selama jangka waktu tersebut. Jika pada tahun 1955 defisit anggarannya baru sekitar 14 persen dari jumlah pendapatan pemerintah pada tahun yang sama , maka pada tahun 1965 defisitnya sudah hampir 200 persen dari besarnya pendapatan pada tahun yang sama.
Selain itu selama periode Orde Lama , kegiatan produksi di sekitar sektor pertanian dan sektor industri manufaktur berada pada tingkat yang sangat rendah karena keterbatasan kapasitas produksi dan infrastruktur pendukung , baik fisik maupun non-fisik seperti pendanaan dari bank. Rendahnya volume produksi dari sisi suplai dan tingginya permintaan akibat terlalu banyaknya uang beredar di masyarakat , mengakibatkan tingginya inflasi yang sempat mencapai lebih dari 300 persen menjelang akhir periode Orde Lama. Hal ini didasarkan data yang dihimpun oleh Arndt (1994) , indeks harga pada thun 1955 sebesar 135(1954=100) dengan jumlah uang beredar di masyarakat pada tahun yang sama tercatat sebanyak 12,20 juta rupiah , dan pada tahun 1966 indeks harga sudah mencapai di atas 150.000 dengan jumlah uang beredar di atas 5 miliar rupiah. Memang pada masa pemerintahan Soekarno , selain manajemen moneter yang buruk , banyaknya rupiah yang dicetak disebabkan oleh kebutuhan pada saat itu untuk membiayai dua peperangan , yaitu merebut Irian Barat dan pertikaian dengan Malaysia dan Inggris , di tambah lagi kebutuhan untuk membiayai penumpasan sejumlah pemberontakan di beberapa daerah di dalam negeri.
Dengan demikian dapat disimpulkan , bahwa buruknya perekonomian Indonesia selama pemerintahan Orde Lama (terutama) di sebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi fisik maupun non fisik selama penduduk Jepang , Perang Dunia II , dan perang revolusi , serta gejolak politik di dalam negeri (termasuk sejumlah pemberontakan di daerah) di tambah lagi dengan manajemen ekonomi makro yang sangat buruk selama rezim tersebut. Dapat dimengerti bahwa dalam kondisi politik dan sosial dalam negeri seperti ini , sangat sulit bagi pemerintah untuk mengatur roda perekonomian dengan baik.
Kebijakan ekonomi paling penting yang dilakukan Kabinet Hatta adalah reformasi moneter melalui devaluasi mata uang nasional , yang pada saat itu masih gulden dan pemotongan uang sebesar 50 persen atas semua uang kertas yang beredar pada bulan maret 1950 yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank yang bernilai nominal lebih dari 2,50 gulden Indonesia. Pada masa kabinet Natsir (kabinet pertama dalam negara kesatuan Republik Indonesia) , untuk pertama kalinya dirumuskan suatu perencanaan pembangunan ekonomi , yang disebut Rencana Urgensi Perekonomian (RUP). RUP ini digunakan oleh kabinet berikutnya merumuskan rencana pembangunan ekonomi masa Kabinet Sukiman ,kebijakan-kebijakan penting yang diambil adalah antara lain : nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia (BI) dan penghapusan system kurs berganda. Pada masa Kabinet Wilopo , langkah-langkah konkret yang di ambil untuk memulihkan perekonomian Indonesia saat itu di antaranya : untuk pertama kali memperkenalkan konsep anggaran berimbang dalam keuangan pemerintah (APBN) , memperketat impor , melakukan “rasionalisasi” angkatan bersenjata melalui modernisasi dan pengurangan jumlah personil , dan penghematan pengeluaran pemerintah. Pada masa Kabinet Ali I hanya dua langkah konkret yang dilakukan dalam bidang ekonomi walaupun kurang berhasil , yaitu : pembatasan impor dan kebijakan uang ketat selama Kabinet Burhanuddin. Tindakan-tindakan ekonomi penting yang dilakukan termasuk diantaranya adalah liberalisasi impor , kebijakan uang ketat untuk menekan laju uang beredar , dan penyempurnaan program benteng , mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan modal (investasi) asing masuk ke Indonesia , pemberi bantuan khusus kepada pengusaha-pengusaha pribumi , dan pembatalan (secara sepihak) Persetujuan Konferensi Meja Bundar sebagai usaha untuk menghilangkan sistem ekonomi kolonial atau menghapus dominasi perusahaan-perusahaan Belanda dalam perekonomian Indonesia.
Dilihat dari aspek politiknya selama periode Orde Lama Indonesia pernah mengalami sistem politik yang sangat demokrasi , yaitu : pada periode 1950-1959 , sebelum diganti dengan periode demokrasi terpimpin. Akan tetapi sejarah Indonesia menunjukkan bahwa system politik demokrasi tersebut ternyata menyebabkan kehancuran politik dan perekonomian nasional. Akibat terlalu banyaknya partai politik yang ada dan semuanya ingin berkuasa , sering terjadi konflik antar partai politik. Konflik politik tersebut berkepanjangan sehingga tidak member sedikitpun kesempatan untuk membentuk suatu kabinet pemerintah yang solid untuk dapat bertahan hingga pemilihan umum berikutnya.
Seperti yang telah diuraikan di atas , pada masa politik demokrasi itu (demokrasi parlemen) , tercatat dalam sejarah bahwa rata-rata umur setiap kabinet hanya 1 tahun saja. Waktu yang sangat pendek ini disertai dengan banyaknya keributan internal di dalam kabinet tentu tidak memberi kesempatan maupun waktu yang tenang bagi pemerintah yang berkuasa untuk memikirkan bersama masalah-masalah sosial dan ekonomi yanf ada pada saat itu apalagi untuk menyusun suatu program pembangunan dan melaksanakannya.
Selama periode 1950-an , struktur ekonomi Indonesia masih merupakan peninggalan zaman kolonialisasi. Sektor formal/modern seperti pertambangan , distribusi , transportasi , bank , dan pertanian komersil yang memiliki konstribusi lebih besar dari pada sektor informal/tradisional terhadap output nasional atau PDB yang didominasi oleh perusahaan-perusahaan asing yang kebanyakan berorientasi ekspor. Pada umumnya kegiatan-kegiatan ekonomi yang masih dikuasai oleh pengusaha asing tersebut relatif lebih padat capital , dibandingkan kegiatan-kegiatan ekonomi yang didominasi oleh pengusaha pribumi dan perusahaan-perusahaan asing yang berlokasi di kota-kota besar seperti : Jakarta dan Surabaya.
 Boeke(1954) menyebutkan istilah struktur ekonomi seperti yang digambarkan diatas sebagai dual societies, yaitu salah satu karakteristik utama dari negara-negara berkembang yang merupakan warisan kolonialisasi. Dualisme dalam suatu ekonomi dapat terjadi karena biasanya pada masa penjajahan pemerintahan yang bekuasa menerapkan diskriminasi dalam kebijakan-kebijakannya baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Diskriminasi sengaja diterapkan untuk membuat perbedaan dalam kesempatan melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi tertentu antara penduduk asli dan orang-orang non-pribumi atau non-lokal.
Keadaan ekonomi Indonesia terutama setelah dilakukan nasionalisasi terhadap semua perusahaan asing Belanda menjadi lebih buruk dibandingkan keadaan ekonomi semasa penjajahan Belanda. Ditambah lagi dengan peningkatan inflasi yang sangat tinggi pada dekade 1950-an. Pada masa pemerintahan Belanda, Indonesia memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, dengan tingkat inflasi yang sangat rendah dan stabil, terutama karena tingkat upah buruh dan komponen-komponen lainnya dari biaya produksi yang juga rendah, serta tingkat efisiensi yang tinggi disektor pertanian (termasuk perkebunan), dan nilai mata uang yang stabil (Alien dan Donnithorne, 1957).
Selain kondisi politik didalam negeri yang tidak mendukung, buruknya perekonomian Indonesia pada masa pemerintahan orde lama juga disebabkan oleh keterbatasan akan faktor-faktor produksi, seperti orang-orang dengan tingkat kewirausahaan dan kapabilitas manajemen yang tinggi, tenaga kerja dengan pendidikan/keterampilan yang tinggi, dana (khususnya untuk membangun infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh industry), teknologi, dan kemampuan pemerintah sendiri untuk menyusun rencana dan strategi pembangunan yang baik. Menurut pengamatan (1957a,b), sejak kabinet pertama dibentuk setelah merdeka, pemerintahan Indonesia memberikan prioritas pertama terhadap stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi, pembangunan industry, unifikasi, dan rekonstruksi. Akan tetapi, akibat keterbatasan akan faktor-faktor tersebut diatas dan dipersulit lagi oleh kekacauan politik nasional pada masa itu, akhirnya pembangunan atau bahkan rekonstruksi ekonomi Indonesia setelah perang revolusi tidak pernah terlaksana dengan baik.
Buruknya kondisi perekonomian bisa dibaca dibuku karya Radius Prawiro berjudul “Pergulatan Indonesia Membangun Ekonomi”, yang dibahas oleh Gero (2010). Buku ini berisi tentang pengalaman pribadi Bapak Radius sewaktu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia ( waktu itu disebut Bank Sentral) untuk periode 1966-1973. Didalam buku tersebut dijelaskan, bahwa inflasi pada tahun 1966 mencapai 650 persen, rupiah terus dicetak, sementara produksi berbagai produk terus merosot. Radius menulis, seperti yang bisa dikutip dari Gero (2010:21), kebijakan “berdikari” alias berdiri atas kaki sendiri yang dikampanyekan Presiden Soekarno membuat semua impor produk pangan dan barang distop. Impor beras dilarang pada Agustus 1964, membuat kondisi persediaan pangan nasional yang sudah sulit semakin pelik. Cadangan devisa dan emas terus menipis dari 408,9 juta dollar AS (1960-1965) menjadi minus 4,5 juta dolar AS… Pendapatan perkapita dari 107 juta rakyat Indonesia, saat itu hanya 60 dolar AS. Kurs rupiah merosot dari Rp 186,67 per dolar AS (tahun 1961) menjadi Rp 14.083 per dolar AS (tahun 1965). Defisit anggaran diatas 140 persen.
Pada akhir September 1965 ketidakstabilan politik di Indonesia mencapai puncaknya dengan terjadinya kudeta yang gagal dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejak peristiwa berdarah tersebut terjadi suatu perubahan politik yang drastis di dalam negeri , yang selanjutnya juga merubah sistem ekonomi yang dianut Indonesia pada masa Orde Lama , yaitu dari pemikiran-pemikiran sosialis ke semikapitalis (kalau tidak dapat dikatakan ke sistem kapitalis sepenuhnya). Sebenarnya perekonomian Indonesia menurut Undang-Undang 1945 pasal 33 menganut suatu sistem yang dilandasi oleh prinsip-prinsip kebersamaan atau koperasi berdasarkan ideologi Pancasila. Akan tetapi , dalam praktik sehari-hari pada masa pemerintahan Orde Baru dan hingga saat ini pola perekonomian nasional cenderung memihak sistem kapitalis seperti di Amerika Serikat (AS) atau negara-negara industri maju lainnya , yang Karena pelaksanaannya tidak baik mengakibatkan munculnya kesenjangan ekonomi di tanah air yang terasa saat ini semakin besar ; pertama setelah krisis ekonomi.







Bab III.Penutup

A.    Kesimpulan

Bahwa buruknya perekonomian Indonesia selama pemerintahan Orde Lama (terutama) di sebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi fisik maupun non fisik selama penduduk Jepang , Perang Dunia II , dan perang revolusi , serta gejolak politik di dalam negeri (termasuk sejumlah pemberontakan di daerah) di tambah lagi dengan manajemen ekonomi makro yang sangat buruk selama rezim tersebut. Dapat dimengerti bahwa dalam kondisi politik dan sosial dalam negeri seperti ini , sangat sulit bagi pemerintah untuk mengatur roda perekonomian dengan baik.

B.   Saran
Saran yang saya dapat berikan dalam perekonomian orde lama untuk pemerintah lebih menanggapi kasus penggelapan uang atau korupsi yang biasanya ada di orde ini, merubah infrastruktur pemerintah dan anggotanya dan sistem ekonomi yang terbuka.







Daftar Pustaka :

·       Prof.Dr.Tulus T.H. Tambunan , Kajian Teoretis dan Analisis Empiris , Galia Indonesia : Jakarta.

Sunday, January 1, 2012

TUGAS PENGANTAR BISNIS 

Jawaban : Anggota Investasi Kekayaan Pribadi Fa. Maju Mundur

A Rp. 800.000,- Rp. 400.000,-
B Rp. 600.000,- Rp. 300.000,-
C Rp. 400.000,- Rp. 200.000,-
D Rp. 200.000,- Rp. 100.000,-

1. Keuntungan bersih (laba) sebesar Rp. 1.000.000,
    keuntungan yang ditahan sebesar 50%, jadi keuntungan insvestor tersebut n      
    yaitu sebesar (50%)/(1.000.000)= Rp. 500.000
    
    Rumus : (Modal Investor)/(Jumlah semua Modal)x keuntungan yang di dapat investor
    Jadi, keuntungan masing-masing setiap investor yaitu :
    Investor A : (Rp. 800.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 500.000 = Rp. 200.000
    Investor B : (Rp. 600.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 500.000 = Rp. 150.000
    Investor C : (Rp. 400.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 500.000 = Rp. 100.000
    Investor D : (Rp. 200.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 500.000 = Rp. 50.000


2. Kewajiban atau utang kepada Bank DIO sebesar Rp. 2.000.000,
    Besar kewajiban yang dibebankan dilihat dari harta kekayaan milik pribadi masing-masing  
    anggota.
    Rumus : (Modal Investor)/(Jumlah semua Modal)x beban atau kewajiban yang ditanggung

   Jadi, besar dari setiap anggota masing-masing yaitu
   Investor A : (Rp. 800.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 2.000.000 = Rp. 800.000
   Investor B : (RP. 600.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 2.000.000 = Rp. 600.000
   Investor C : (Rp. 400.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 2.000.000 = Rp. 400.000
   Investor D : (Rp. 200.000)/(Rp. 2.000.000)x Rp. 2.000.000 = Rp. 200.000


Wednesday, December 28, 2011

The best motivation Film - Film Motivasi terbaik untuk kita yang sempurn...






Kesimpulan yang kami dapat adalah dengan kekurangan seseorang kita tidak bisa mengatakan bahwa "kita tidak bisa melakukan sesuatu" tetapi yang seharusnya kita lakukan itu bisa. Video motivasi ini mengajarkan kita sebagai manusia untuk tetap semangat dan tidak mudah putus asa dalam melakukan segala hal yang dilakukan, meskipun kita memiliki suatu kekurangan dan kelebihan.



Nama kelompok :
1. Deby Debora Sianipar (21211790)
2. Merry Cristyn Rossarya (24211439)

Kelas : 1EB25


Monday, November 21, 2011

Pengantar Bisnis

1. Pengertian Pasar dan Pemasaran
    Pasar dapat dijadikan sebuah sarana untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial. Masyarakat dapat menjadikan pasar sebagai tempat untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi misalnya dagang, promosi, pameran dan lain sebagainya.
Dalam kegiatannya, pasar telah banyak memberikan berbagai kemudahan baik kepada produsen maupun kepada konsumen. Produsen dapat menggunakan pasar sebagai tempat untuk memasarkan (menawarkan) barang hasil produksinya. Sedangkan konsumen dapat membelanjakan uangnya untuk mendapatkan barang dan jasa yang mereka inginkan guna memenuhi kebutuhan.
Harga yang terbentuk di dalam sebuah pasar benar- benar mencerminkan adanya kesepakatan (kegiatan pemasaran) antara penjual dan pembeli. Permintaan mencerminkan keinginan konsumen. Sementara penawaran mencerminkan keinginan produsen atau penjual.
  • Pangertian pasar secara umum sering di kenal sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan suatu transaksi jual beli barang dan jasa yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan. Sedangkan pengertian pasan secara konsep pemasaran adalah kelompok individual (perorangan atau kelompok) yang mempunyai permintaan terhadap barang dan jasa tertentu, daya beli, dan berniat merealisasikan pembelian. 
Menurut William J. stanton (1993) pasar dapat di definisikan sebagai berikut:
“pasar adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk belanja dan kemauan untuk membelanjakanya”. Dari definisi tersebut terdapat tiga unsur penting di dalam pasar yaitu:
· orang dengan segala keinginanya.
· daya beli mereka.
· kemauan untu membelanjakan.
  • Pemasaran adalah sebuah kegiatan baik secara individu maupun kelompok untuk mendistribusikan, menawarkan hasil produksi kepada konsumen guna memenuhi kebutuhan (needs), keinginan (wants), permintaan (demands) komsumen melalui proses pertukaran agar tercapainya tujuan produsen.
Beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya:
  1. Menurut Philip kloter pemasaran atau marketing adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan malalui proses pertukaran.
  2. Menurut William J. stanton pemasaran adalah keseluruhan sistem dari kegiatan usaha yang ditunjukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

    2. Jenis-jenis pasar
        1. Pasar konsumen akhir (end user) 
            yaitu pasar yang menyediakan barang dan jasa
            untuk tujuan memenuhi kebutuhan pribadi dan keperluan rumah tangga sendiri.
        2. Pasar konsumen antara (intermediate consumers) yaitu pasar yang menyediakan
            barang untuk tujuan memenuhi konsumsi industrial, yang dimana barang dalam
            pasar tersebut di proses atau dijual untuk pihak lain.
        3. Pasar nyata adalah tempat umumnya dengan banyak penjual dan banyak pembeli
            dengan membawa uang untuk mengadakan transaksi. Antara penjual dan pembeli
            harus melihat barang-barang yang dijual.
        4. Pasar abstrak adalah tempat terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli tanpa
            harus melihat barang-barang yang dijualkan.  



    • Jenis-jenis Pasar Barang : 
    1. Pasar persaingan sempurna
        Adalah struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, setiap penjual dan pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan pasar. Ciri-ciri pasar persaingan sempurna adalah:
    · Jumlah penjual dan pembeli sangat banyak.
    · Barang yang diperdagangkan serba sama.
    · Masing-masing penjual hanya berperan sebagai price taken (yang menetapkan harga).
    · Konsumen memahami sepenuhnya keadaan pasar.
    · Tidak ada hambatan untuk keluar masuk pasar bagi penjual.
    · Factor-faktor produksi bebas bergerak. 
    · Pemerintah tidak campur tangan dalam pemetapan harga
    2. Pasar monopoli (milik pemerintah) Adalah suatu bentuk intnteraksi antara    permintaan dan penawaran di mana hanya ada satu
    penjual yang berhadapan dengan banyak pembeli. Ciri-ciri pasar monopoli (milik
    pemerintah) adalah:
    · Harga ditentukan satu perusahaan. · Penjual menguasai penentuan harga.
    · Tidak terdapat barang pengganti yang mirip atau sama (clouse substitution).
    · Tidak terdapat kemingkinan untuk masuk kedalam industry.
    · Usaha mempromosikan melalui iklan kurang diperlukan.
     3. Pasar persaingan monopolistik 
         Adalah suatu bentuk interksi yang sama antara permintaan dan penawaran dimana
         terdapat sejumlah besar penjual yang menawarkan barang yang sama tetapi berbeda
         corak (model). Ciri-ciri pasar persaingan monopolistik adalah:
    · Terdapat banyak penjual yang berkecampung di pasar.
    · Barang yang dijual diferentiaten.
    · Para penjual memiliki kekuatan monopoli atas barang produknya sendiri oleh karna
      itu harus memperhitungkan persaingan dengan barang-barang lain yang sama tetapi
      berbeda corak untuk memenangkan persaingan.
    · Setiap penjual atau produsen aktif melakukan produksi dan iklan.
    · Keluar masuk pasar relatif lebih mudah dibandingkan dengan pasar monopoli atau
      oligopoli. Keadaan pasar disini mengndung unsure monopoli sekaligus unsur
      persaingan disebut pasar persaingan monopoli.
    4. Pasar oligopoli 
        Adalah suatu bentuk interaksi permintaan dan penawaran dimana terdapat beberapa
        penjual atau produsen yang menguasai seluruh permintaan pasar. Ciri-ciri pasar
        oligopoli adalah:
    · Terdapat beberapa penjual atau produsen yang menguasai pasar.
    · Barang yang diperjual belikan dapat homogen dapat pula berbeda corak (diferentiaten
      produk).
    · Terdapat hambatan yang cukup kuat bagi perusahaan yang berada di luar pasar untuk
      masuk kedalam pasar.
    · Satu diantara para oligopolis merupakan rice yaitu penjual yang memiliki pangsa pasar
      terbesar , memiliki kekuatan besar untuk menetapkan harga dan para penjual yang
      lainya terpaksa mengikuti harga tersebut.

Tujuan terbentuknya pasar :
  • memudahkan konsumem mendapat barang dan jasa tertentu.
  • memudahkan produsen menjual hasil produksinya.
  • meningkatkan perekonomian.
  • Memfasilitasi masyarak

3. Konsep-konsep inti pemasaran yaitu :
  • Kebutuhan
  • Keinginan
  • Permintaan
  1.  Manajemen Pemasaran
    manajemen pemasaran adalah penganalisisan,perencanaan,pelaksanaan dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang ditinju dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan perusahaan.
    Sebagai falsafah bisnis, konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan berorientasi kepada kebutuhan konsumen. Hal ini secara asasi berbeda dengan falsafah bisnis terdahulu yang berorientasi pada produk, dan penjualan. Secara definitif dapatlah dikatakan bahwa: Konsep Pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan (Stanton, 1978). Tiga unsur konsep pemasaran:
  • Orientasi pada konsumen
  • Penyusunan kegiatan pemasaran secara integral
  • Kepuasan Konsumen
    • Unsur-unsur dalam pemasaran
  • Pemasar adalah sebuah organisasi atau perorangan yang mempunyai tujuan untuk puas melalui pendistribusian barang dari produsen kepada konsumen. Pemasar dapat berupa:
    1. Produsen (berorientasi terhadap keuntungan).
    2. Organisasi (berorientasi terhadap keuntungan dan kesejahteraan umum).
    3. Pemerintah (berorientasi terhadap kesejahteraan umum).
  • Barang dan jasa dalam sebuah pemasaran harus terdapat barang dan jasa yang dipasarkan, barang yang ber sifat kongkret dan jasa yang bersifat tidat kongkret.
  • Pasar dijadikan sebagai tempat pemenuh kebutuhan, proses interaksi antara permintaan dan penawaran dari suatu barang dan jasa tertentu sehingga terciptanya penetapan harga keseimbangan dari jumlah barang dan jasa yang di perdagangkan.
  • Negosiasi adalah proses interaksi antara produsen atau distributor kepada konsumen untuk dapat memenuhi kebutuhan guna tercapainya tujuan dan kesepakatan bersama.
Bauran Pemasaran adalah kombinasi dari 4 variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu produk, harga, kegiafan promosi dan sistem distribusi.
1.  Produk yaitu segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Produk dapat terdiri dari product variety, quality, design, feature, brand name, packaging, sizes, services, warranties, and returns.
2.  Price yaitu sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau mengganti hal milik produk. Harga meliputi last price, discount, allowance, payment period, credit terms, and retail price.
3. Pelace yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan/dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran. Tempat meliputi antara lain channels, coverage, assortments, locations, inventory, and transport.
4. Promosi yaitu berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain sales promotion, advertising, sales force, public relation, and direct marketing.

Tujuan Sistem Pemasaran yaitu :
1. Memperkenalkan Produk kepada Umum
2. Melakukan Promosi baik dalam bentuk fisik maupun maya
3. Mendukung Penjualan hingga terjadinya penjualan
4. Melakukan pemetaan terhadap pasar (market share, dsb)
5. Analisa terhadap kompetitor (pesaing usaha)
6. Membuat Feed back bagi produksi (tentang kekurangan dan kelebihan produk yang dibuat dan dipasarkan)
7. sebagai acuan / pertimbangan untuk peningkatan produksi pada periode selanjutnya


Terdapat enam macam pendekatan yang biasa digunakan untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam pemasaran yaitu pendekatan
  • komoditi (commodity approach),
  • pendekatan kelembagaan (institutional approach)
  • pendekatan analitis atau efisiensi pemasaran (analytical approach),
  • pendekatan struktur tingkah laku dan penampilan pasar (SCP approach), dan
  • pendekatan manajemen pemasaran (marketing management approach).
Masing-masing pendekatan tersebut tidak dapat berdiri sendiri sehingga memerlukan pendekatan lainnya agar dapat memberikan manfaat yang lebih menyeluruh.

 Kesimpulan yang dapat diambil dari karya tulis ini adalah :
· Pasar dapat didefinisikan sebagai proses interaksi antara permintaan dan penawaran dari suatu barang dan jasa tertentu sehingga dapat di tetapkanya harga keseimbangan dari sejumlah barang yang diperdagangkan.
· Pasar erat hubunganya dengan kegiatan pemasaran.
· Untuk mendapatkan barang ekonomi harus dengan pengorbanan.


 sumber : vicez, arami-rafsanjani